History Mokamula

Posted by mokamula 24/03/2017 0 Comment(s) ,

Dear , pasti kalian bertanya tanya kisah sukses dibalik Mokamula , yuk simak cerita singkat inspiratif dari para ownernya .

 

 

PEMBERDAYAAN pemuda dan masyarakat bisa melalui berbagai cara. Salah satunya menggerakkan mereka dalam suatu produksi. Seperti langkah nyata yang dilakukan dua pemuda asal Cimahi, Yana Agustian dan Dani Rondani. Meski berlatar belakang musisi, Yana dan Dani bisa berkibar dengan memproduksi tas dan dompet handmade "Mokamula". 

 

Usaha yang dirintis keduanya sejak 2010 lalu itu, kini sudah beromzet Rp 1 miliar/bulan. Sebuah usaha kecil menengah dengan penghasilan fantastis. Saat ditemui di tempat produksinya di sebuah rumah berlantai dua, Jln. Margaluyu, Kel. Cimahi, Kec. Cimahi Tengah, tampak puluhan pemuda, baik yang berlatar belakang pemain band maupun masyarakat umum sedang sibuk mengerjakan pembuatan dompet. 

 

Ada yang kebagian membuat pola, menggunting, menempelkan motif, merapikan benang, memasang resleting, dan kesibukan lainnya.

 

 

Tidak hanya di satu rumah, masih di satu gang, di rumah lainnya, para pemuda juga melakukan aktivitas yang sama. Bahkan di beberapa rumah sekitarnya, ibu-ibu rumah tangga banyak yang kebagian order mengerjakan tahapan membuat dompet yang sering juga disebut HPO atau hand pocket organizer.

 

Sedangkan untuk tahap finishing dan kantornya, bertempat di Kompleks Fajar Raya, Kel. Cibabat, Kec. Cimahi Utara.

Dani mengaku melesatnya usaha yang dirintisnya sejak 3 tahun lalu ini berkat kualitas bahan dan desain yang selalu terjaga.

"Awalnya kami memproduksi tas besar, tapi karena permintaan HPO yang sangat tinggi akhirnya kami hanya memproduksi HPO," katanya.

 

Ia mengatakan, yang menjadi ciri khas dompetnya adalah bahannya menggunakan kain koduroi dan desain dengan teknik tempel perca. Diakui ide kreatifnya hingga melahirkan puluhan motif HPO mengalir begitu saja.

 

"Prosesnya karena dikejar waktu dan harus keluar model baru makanya kami langsung gitu saya mengeluarkan model. Yang terpenting bahannya harus koduroi dengan berani memainkan warna-warna biar tampak menarik," ucapnya.

 

Kunci sukses lainnya yaitu strategi pemasaran. Selama ini, ia tidak pernah mengeluarkan katalog. Tapi si penjual langsung membawa barang untuk dipasarkan. Sistem penjualannya melalui distributor, lalu ke reseller, baru langsung ke pembeli.

 

Saat ini target produksi digenjot hingga 100 persen. "Pada saat awal produksi dalam seminggu memproduksi 200 buah, sekarang target produksi 1.000 buah dalam sehari. Tapi saat ini kapasitas produksi baru bisa maksimalnya sebanyak 700 buah," katanya.

 

Selain terkendala bahan baku, proses pengerjaan yang rumit dan fasilitas tempat membuat target 1.000 buah/hari belum terpenuhi.

"Saat ini kami mempunyai 48 distributor di seluruh Indonesia. Dan satu distributir per minggunya rata-rata 300 buah," tambahnya.

 

Usaha yang dijalankan Dani bersama rekan-rekannya menjadi contoh bagi siapa pun untuk berani memulai usaha. Modalnya ide kreatif, kemauan, semangat, tekad serta kebersamaan dengan warga sekitar. (cucu sumiati/"GM")**

Leave a Comment